Sabtu, 29 November 2025

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris pertama, september tahun lalu. Kuselipkan doa dan salam mendampingi perjalananmu. Kupastikan kau selalu bisa menghubungiku kapan pun kamu mau.

Terima kasih sudah hadir.

Terima kasih selalu mencariku.

Terima kasih telah berbagi kasih sayang selama satu tahun ini.

Terima kasih sudah menyelamatkan disaat gelap datang merekah.

Aku tidak akan pernah berani untuk menahan. Kau telah dijanjikan akan sesuatu yang jauh lebih indah.

Dari aku yang akan selalu mencintaimu, selamat mendekatkan dengan apa yang di mau.


Pabuaran, 29 November 2025. 

Sabtu, 13 September 2025

Another depressive episode

Bolos kuliah di hari pertama semester tiga. Udah bangun pagi tapi ngga bisa beranjak dari kasur. Feeling blue dan unmotivated

Ngga ada yang nanyain kabar. My whole existence is just slowly fading away like one of those dead people.

Buka gofood pesen kopi sama makan. Sehari lagi habisin waktu guling-guling di kamar. Mereka yang bilang kalau "sepi adalah teman abadi" aku jadi ngerti.

Dua puluh tiga tahun telah menjalin banyak hubungan dengan beberapa orang. Selama ini ngga pernah mau kalau diajak pacaran. Ngebayangin punya status, komitmen, dan perasaan terikat dengan seseorang rasa-rasanya berhasil munculin rasa ngeri bikin takut tiba-tiba muncul ke permukaan. Those kind of things scared the hell out of me. Aku minta maaf kalau ternyata selama ini aku ngga mencintai mereka yang datang dengan niat dan hati yang tulus. I just feel happy being around them.

Tapi kemaren baru sekali beraniin buat membuka diri ke orang lain karena aku beneran suka. Baru benar-benar mencintai seseorang sebegitu besarnya dan berani buat menjalin hubungan yang disebut pacaran. 

Sayangnya itu semua ngga bertahan lama. Aku ngerusak semuanya dan dia pergi. Aku sadar diri. Seandainya waktu itu dia mutusin buat bertahan pun kita emang ngga ditakdirin buat satu sama lain. Seneng banget bisa kenal sama kamu. Satu-satunya lelaki yang berhasil bikin aku luluh dan mau membuka diri buat orang lain. 

Beberapa bulan ini jadi kewalahan menghadapi diri sendiri yang ngerasain berbagai emosi baru meski udah ngga dapet kabar dari kamu. 

The excitement pas dapetin bukunya Franz Magnis-Suseno tentang pemikiran Karl Marx cetakan keempat terbitan april tahun 2000. Feeling grumpy pas dikatain orang jelek office sebelah yang namanya Inayah gara-gara ngusik masalah personal dan lancang karena nanya-nya ngga cukup sekali dua kali tapi udah berkali-kali. Dan mati rasa pas tau mantan aku udah punya pacar baru.

Perlahan-lahan semua emosi itu reda dan cuma butuhin beberapa hari kedepan buat bikin rasanya mulai jadi hambar. Aku sendiri lagi.

Jumat, 12 September 2025

Dekade kedua tahun ketiga

 Untuk 12 september, mengenang diri sendiri dalam tulisan.

.....


Dalam hidup, ngga ada yang bilang bakal gampang. Makanya sering banget disuruh sabar.

Kesel karena masih sering dibilang suka "ninggalin orang" dimana-mana (padahal mereka sendiri yang jalannya lama). Tapi ini bukan cuma perkara main tinggal pas lagi jalan doang. Jujur mereka emang bener. Aku suka main tinggal tiap kali kejebak di situasi yang ngga aku suka, ngga peduli walaupun ketika di waktu aku lagi dibutuhin banget sama banyak orang. Bukan mau menghindari buat menyelami diri sendiri, tapi lebih ke keburu takut aja gimana kalo ternyata aku dangkal dan ngga sesuai sama apa yg mereka ekspektasiin? gimana kalo aku gagal? gimana kalo ternyata aku masih remeh?

Kesel sama diri ini yang yaudah-yaudah aja dan selalu ngikutin arus yang ada. Aku ngga suka melihat diri sendiri ngga memegang kendali atas sesuatu yang sebenarnya bisa aku usahain. Aku ngga suka.

Takut, beneran takut dan gelisah banget.

Takut, soalnya isi kepala isinya negatif semua.

Takut, gimana kalo selama 5 tahun ini ternyata aku dipandang orang ngga mampu handle hal-hal yang selama ini aku kira bisa kendaliin.

Untuk 12 september ini, semakin sadar kalo presensiku di hidup orang juga ngga ada artinya. Bahkan di keluarga sendiri. Tapi di hari ini, satu ucapan selamat dan doa-doa terpanjatkan masih berasal dari satu orang yang sama selama beberapa tahun belakangan. 

Minggu, 31 Agustus 2025

Perihal rasa yang kau tanyakan

Kita diam. Tapi jauh di dalam sana dan tanpa sepengetahuan, kita sepakat meniadakan. Berat, tapi juga penuh penerimaan.

Mencintai seharusnya terasa mudah, tapi engga waktu sama kamu. Aku mulai mempertimbangkan semuanya apa ini bakal terasa pantas hingga memutuskan buat ngambil langkah kebelakang dan biarin kamu pergi.

Perihal rasa yang kamu tanyain, sebenarnya mau. Masalahnya, kamu udah terlahir dari segala sesuatu yang sangat tinggi, buat beberapa orang cukup sadar diri dan memilih pergi.

Segala sesuatu tentangku masih sangat kacau, ngga seberani itu buat narik kamu ikut kedalamnya. Kamu sangat berharga, kamu layak atas segalanya, kamu begitu dicintai.

Setengah tahun ini (di bulan juni) kita ngga putus komunikasi. Tapi di setengah tahun ini, kamu udah punya kesibukan lagi, mulai hidup lagi. Bakal jarang pulang ke rumah, pelan-pelan lupain aku, relasimu baru. Kabar baiknya kamu bakal bertumbuh di luar sana. Aku bangga lihatnya.

Dan kamu akan terus menemukan cahaya di tempat manapun kamu berada, sedang aku disini meredup dan semakin dingin.

"Sebelum memutuskan untuk menjalani hidup dengan orang lain, aku harus mampu hidup dengan diriku sendiri."

Semoga kota itu memelukmu. Sampai jumpa di sela-sela kerinduan yang mengusik selanjutnya.



Jumat, 06 Juni 2025

Dan kamu lahir dari semua yang cukup baik

 Masih terjaga diantara satu dari ribuan malam tanpa lelap lainnya. Aku berbaring menikmati rundungan malam yang jarang memberiku ketenangan. Tidak ada hujan. Tidak ada Tuhan. Tidak ada kabar dari lelaki yang setahun belakangan ini menjadi alasan mengapa aku terus bersandar pada harapan.

Jika berbicara tentang hal paling mendasar yaitu kasih sayang. Selama ini aku memandangmu sebagai sesuatu yang sangat berharga. Begitu berharga hingga aku melupakan fakta bahwa kamu masih menyimpan rapat bayangan masa lalu jauh di lubuk hati paling dalam. Kamu bebas datang dan pergi sesuka hati. Gemar sekali meninggalkan bekas mendalam dan pertanyaan tentang harapan atau tentang maksudmu kembali lagi dan lagi.

"Kangen", katamu di setiap malam ketika menghubungiku. Dan aku selalu tersenyum getir melihat pesan itu. Karena bahwasannya tidak akan menepis kenyataan tentang bagaimana pada tubuhmu selalu kutemukan orang asing entah dari masa lalu atau orang baru yang ikut singgah dan selalu berhasil menarik perhatian.

Aku menginginkanmu seutuhnya. Aku ingin kamu di versi terbaikmu begitu juga denganku. Aku ingin kita saling bertelanjang rasa. Bertukar perasaan tanpa ada yang harus disembunyikan. Bertelanjang rasa hingga tidak lagi kutemukan bayang-bayang masa lalu dari tubuh dan hatimu. Mereka tidak lagi bersembunyi tapi benar-benar pergi. Perasaan dan jiwamu bebas dan tanpa beban untuk melangkah kedepan.

Tapi apa yang membuatku begitu yakin akan berakhir bersamamu? Di dalam harapan tidak ada jaminan, karena ada saat dimana kita selalu tertarik pada kegilaan. Dibalik kepala akan selalu kuingat, karena kamu lahir dari semua yang cukup baik.



Pabuaran, 6 Juni 2025.

22:48


Jumat, 14 Maret 2025

Katanya ini disebut Trikotilomania

 Pas kelas 2 sd pernah botakin rambut sendiri tepat di ubun-ubun dengan cara di cabutin tiap hari, keluarga mulai curiga karena banyak rambut aku rontoknya ada di karpet, dan di sekolah juga ditanyain sama guru kenapa, akhirnya dibawa periksa sama orangtua tapi dokternya dulu malah cuma nyaranin pake obat penumbuh rambut karena emang gaada indikasi apa-apa menurutnya, padahal aku sendiri dalang dari pencabutan rambut sampe botak yang gamau ngaku sampe akhirnya kepergok sama ibuk pas diri ini lagi nyantai di depan tipi tapi tangan sibuk sama rambut di kepala.

Tiba-tiba keinget dan coba tanya ke beberapa temen sd tapi sebagian pada dasarnya gatau atau emang pada lupa haha.

Soalnya sebisa mungkin ibuk tetep ngusahain biar area kepalaku yang botak itu ga keliatan.

Dulu rasanya lega aja gitu pas rambut bisa kecabut, kayak gelisahnya agak berkurang, gatau kenapa.

Sampe sekarang kalo ibuk atau bapak liat aku lagi megangin rambut pasti selalu ditegur, "ojo nyekeli rambut wae".

Rabu, 26 Februari 2025

Hindia dan Stoikisme di Awal 20-an

   Hindia dalam lagu-lagunya bercerita tentang pengalaman pribadi, refleksi diri, dan pencarian makna hidup yang lebih mendalam. Eksistensinya dalam hidupku memang cuma ada dalam bentuk digital, namanya Baskara Putra, yang dikenal dengan nama panggung Hindia. Pertama tahu menahu tentang Baskara di tahun 2019 lewat lagu Peradaban yang dibawakan oleh grup musiknya .Feast ketika ramai di media saat pemilu tahun itu. 

Tapi di akhir 2020 disini baru asyik mengulik album pertamanya yang Multiverses dan menemukan beberapa lagu-lagunya yang ternyata terinspirasi dari serial tv dan film. Seperti Sectumsempra yang berasal dari serial Harry Potter ke 5. Dimana waktu itu saudara sepupuku terdengar sedang menyanyikan lagu tersebut, baru sadar kalau itu lagu yang dibawakan dari grup musik .Feast, karena aku sendiri tahunya Sectumsempra adalah mantra sayatan milik Severus Snape di film Harry Potter and The Half Blood Prince. Yang pas banget di kala itu lagi gila-gilaan namatin series Harry Potter dan baru selesai baca buku ke-4 nya. Tapi memang dari dulu udah khatam duluan nonton filmnya berulang kali jadi ya hafal secara keseluruhan isinya apa aja. 

Lalu di lagu Upside Down, pas baca judul ini yang tergambar pertama di pikiran adalah dunia terbalik yang ada di Stranger Things, tapi di bikin judul lagu sama Baskara. Dan lagu Fastest Man Alive jika kalian nonton The Flash pasti tahu kalau itu adalah sebutan untuk Barry Allen.

Intinya terlepas dari terinspirasinya beberapa judul yang memang dari film dan series, Baskara tetap berhasil mengemas lagu-lagu dalam band nya dengan apik dan memiliki makna sendiri.

Kesenanganku akan sosok Baskara berlanjut ketika dia merilis album studio perdananya Menari Dengan Bayangan lewat projek solonya di Hindia dimana lagu Secukupnya dan Rumah ke Rumah merajalela dimana-mana. Beberapa tahun belakangan ini masih setia menikmati dan mencerna pemikiran lewat karya-karya di projek solonya tersebut, yang setelah kupelajari ternyata beberapa dari karya yang dibuatnya tak jauh dengan pemikiran stoikisme.

Melihat kondisi yang sedang dialami diri sendiri setelah memasuki usia 20-an jauh berbeda ketika masih menjalani hidup sebagai remaja kekanakan beberapa tahun silam. Dunia dan orang-orang sekitar mulai sibuk mencapai sesuatu dalam hidup, teman-teman mulai menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan mulai di wisuda, berlomba-lomba menggapai satu persatu mimpi mereka. Membuat perubahan dan mencari makna dari setiap hal baru yang ditemui, seperti yang bisa dikatakan banyak orang kalau mereka termasuk pribadi yang berhasil. Sedangkan diri sendiri masih berjuang dan harus menghadapi kegagalan setiap langkah yang diperbuat.

Lalu semua hal itu membuatku sibuk membandingkan diri dengan mereka-mereka diluar sana. Bagaimana cara menghasilkan sesuatu, bagaimana caranya mencapai posisi tertentu nanti untuk diriku sendiri di kemudian hari dan semua keresahan tentang masa depan lainnya yang mulai memenuhi isi kepala setiap harinya.

Omong-omong tentang stoikisme, secara singkat adalah filosofi hidup yang menawarkan panduan agar bisa menghadapi kehidupan dengan tenang, bijaksana, dan penuh makna di dalam dunia yang penuh tantangan. Segala macam ketidakpastian yang dihadapi di era sekarang ini seringkali mengakibatkan krisis identitas, yaitu sebuah kondisi psikologis ketika seseorang (termasuk diri sendiri) merasa kehilangan arah, bingung, bahkan tidak mengenal diri mereka yang sebenarnya.

Tapi sepertinya semua tuntutan dalam kehidupan dewasa ini membuatku lupa dengan sedikit kebahagiaan untuk diri sendiri. Dan baru ku sadar yang menempatkan diriku di posisi menyulitkan ini ya aku sendiri. Karena sebenarnya tidak ada yang mematok aku harus begini dan begitu dalam kurun waktu tertentu.

Di lagu Besok Mungkin Kita Sampai, aku ditampar oleh idolaku lewat lirik, “Hidup bukan saling mendahului, bermimpilah sendiri-sendiri”

Atau di lagu Untuk Apa / Untuk Apa? Terdapat di lirik, "Mengejar mimpi sampai tak punya rasa, mengejar mimpi sampai lupa keluarga, mengejar mimpi, lupa dunia nyata, mengejar mimpi tapi tidak bersama. Padahal katanya uang takkan kemana, jika memang rezeki, ya, kan ditransfer juga, namun dikejar terus seakan satwa langka, diprosesnya melintah, lupa jadi manusia.”

Dan sebenarnya masih banyak lagi bahkan di beberapa lagu pada album Lagipula Hidup Akan Berakhir. 

Aku merasakan banyak kelegaan karena aku tahu bahwa aku pasti punya jalan, dan semua akan selesai sesuai waktu yang aku punya. Jika berkesempatan hidup lebih lama pasti nanti bakal kegapai juga.

Makasih Bas lagu-lagunya, pas buat aku dan banyak orang di luar sana. Bangga mengenal musisi yang vokalnya bersuara jelek.


Selamat menikmati karya terbaru dari Hindia di Mixtape Doves, ’25 on Blank Canvas.

Senin, 03 Februari 2025

Dan kau abadi di setiap tulisanku

Mata teduh itu.

Pemilik mata dengan tatapan paling sendu bagi siapapun yang memperhatikannya dengan teliti. Mata yang senantiasa dikelilingi lingkaran hitam bukti terjaganya kamu di kala malam. Lengkap dengan semua kegelisahan yang ikut menyiksamu ketika sunyi. Semua yang ku tuliskan masih tentang dirimu. Dan aku meninggalkan tulisan ini dimana-mana. Bukti yang terlalu menyita perhatian? Tidak juga. Aku begitu yakin tidak akan ada yang tahu soal teka-teki tulisan tentangmu ini. Aku menulis karena tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan semua isi pikiranku disaat kamu memang masih memiliki tempat dalamnya. Berita baiknya, aku telah memastikan kau takkan melihat notifikasi apapun dariku. Mungkin kabar akan tetap berlanjut dan mengiringi jika saja kamu ataupun aku merindukan satu sama lain sesekali.

Dengan jarak dan keadaan yang memisahkan ini. Kumohon, hiduplah dengan baik. Kejar apapun yang kamu mau. Terjang saja semua jika itu menyangkut tujuanmu. Mungkin kau akan selalu kesulitan memejamkan mata dan mengistirahatkan pikiran ketika malam. Karena dunia memang tidak menjamin ketenangan. Janjikan saja pada dirimu sendiri. Semua ketidaknyamanan ini adalah rangkaian proses karena kau akan mendekatkan dengan apa yang kamu mau. Lalu beginilah aku menjagamu. Lewat kiriman doa yang masih senantiasa terucap. Dan segala tulisan yang ku buat, kau akan abadi di setiap tulisanku.

Minggu, 02 Februari 2025

Ingat Aku di Sela-Sela Keresahanmu Menuju Tidur

Kau tak bisa tidur.

Aku tak bisa tidur.

Diantara keresahan malam yang selalu datang mengganggu ini. 

Ingat aku.

Aku berada diantara sela-sela lembar buku di meja kamarmu.

Aku berada disetiap lagu-lagu yang ditulis oleh musisi favoritmu.

Dan aku juga berada disana.

Di surat yang pernah kuberikan. 

Ingat aku pada setiap kata dan goresan tinta pada lipatan kertas di dalamnya.

Lalu yang datang bukannya ketenangan.

Melainkan tumpang tindih berisiknya suara di pikiran.

Dan juga keresahan-keresahan lain yang akan memenuhi isi kepalamu malam ini dan malam-malam seterusnya.

Kamu sempurna apa adanya.

Andai kau izinkan.

Biarkan aku masuk ke dalam ingatanmu kapan pun aku merindukanmu.

Senin, 20 Januari 2025

Kegagalan dan Ribuan Doa Yang Lupa Jalan Pulang

Ku ucapkan selamat tinggal kepada kasih sayang bude. Selamat tinggal kepada senyuman pakde. Selamat tinggal kepada perhatian kedua sepupuku yang selama ini telah sukarela menampungku dengan sangat baik di dalam keluarga kecil mereka. Merangkulku dan memberikan yang terbaik seolah aku bagian dari mereka tanpa membeda-bedakan.

Bukan karena seakan aku akan mati atau kemana. Melainkan gagal sudah diriku. Di mata mereka tidak akan lagi sama. Tatapan lembut mereka kepadaku akan berubah menjadi biasa.

Seiring kegagalan yang setia mengikutiku ketika tumbuh dewasa. Aku bertanya-tanya. Kemana perginya semua doa yang ku panjatkan di kesunyian malam selama ini? Apakah mereka lupa jalan pulang? Apakah bahkan doa ibuku juga kesulitan untuk melindungiku?


Ya, Tuhan. Tolong. Maaf. Mohon ampun. Terima kasih atas hukumannya.


Dan petang tadi semua kebohonganku terbongkar tepat di hadapan mereka. 

Bisa kubayangkan kekecewaan tergambar jelas di wajah pakde ketika beliau ingin berangkat menuju masjid. Atau keterkejutan kedua sepupuku mengetahui fakta yang baru saja didengarnya. Dan mungkin bude yang entah bagaimana reaksinya.

Katanya, membuat kesalahan itu manusiawi, supaya belajar, supaya tahu mana akhirnya baik dan buruk. Tapi jika seandainya waktu bisa diputar, siapa juga yang mau melakukan kesalahan seperti itu?

Walaupun seandainya beneran bisa mengulang waktu pun, tampaknya udah terlambat juga. Nasi udah jadi bubur. Dinda udah bilang mau mundur, mba Lia udah lepas.

Belum tahu bakal bagaimana penyelesaiannya. Tapi perkara yang fana-fana ini. Semoga Tuhan tidak ikut-ikutan lepas tangan. 

Untuk Bintang, Selamat Berpisah Sekali Lagi

    Tak banyak yang bisa ku berikan. Tapi semoga saja, doa-doa panjang yang terus keluar dari mulut orang tak suci ini masih bisa menembus langit dan di dengar oleh Tuhan.

Semoga, di setiap hari ke lima di bulan oktober perayaan kecil-kecilan masih setia menghiasi hari penting mu itu.

Karena akan ku katakan padamu, bahwa aku tidak akan ada disana untuk waktu yang tidak bisa diperkirakan.

Semoga, jalan panjang mu menuju masa depan cerah di mudahkan.

Semoga kedua orang tua mu lebih banyak lagi mengabarimu. Memberikan tatapan lembut dan sorot kasih sayang lebih sering kepadamu.

Semoga, gadis yang masih kau taruh hati padanya itu akan kembali berbalik padamu. Memelukmu erat dan takkan lagi melepaskanmu.

Bintang, mungkin kamu takkan pernah tahu, karena memang aku tidak akan pernah memberi tahu mu.

Bahwa esok, lusa atau bahkan seterusnya. Sebagian dari dalam diriku akan selalu menyimpan kasih sayang tulus untukmu.

Semoga damai dalam dirimu bermekaran.

Tidak banyak yang bisa ku tuliskan di sini. Aku hanya salah satu dari ciptaan Tuhan yang telah ditunjukkan untuk ikut menyelam kedalam separuh hidupmu secara sementara. Dan tidak melekat.

Jumat, 03 Januari 2025

Surat Untuk Yasmin

     Jika perasaan iri dan kagum sekaligus bisa dideskripsikan, mungkin tulisan gamblang ini yang akan mewakilinya untukmu.

Pemilik nama indah, mata dan senyum paling menawan yang mampu membuat pria manapun bertekuk lutut hanya dengan memandang sekilas wajahmu.

Wanita cantik yang terlahir dari latar belakang keluarga cemara berada. Terlahir dari kedua orang tua yang saling mencintai dengan tulus, dari silsilah orang baik-baik, semua untukmu atau yang ada padamu selalu diusahakan dan pasti mendapatkan yang terbaik.

Tumbuh besar dikelilingi doa-doa sehingga menjadi manusia yang benar-benar bisa dicintai oleh semua orang disekitarnya. Kau pun berhasil menjadi makhluk sosial. Memiliki banyak teman dan koneksi sana-sini, background keluargamu juga tidak membuat siapapun malu. Kamu pun selama ini juga tidak pernah kekurangan suatu apapun.

Lalu, kutemukan sebuah jejak digital oleh seseorang yang masih menyimpan namamu dengan baik. Dicintai sebegitu besar dan tulus dari laki-laki yang sedari dulu aku harapkan bahkan hanya untuk sekedar mengenal dan menjadi teman.

Namamu masih disana, bahkan ditulisnya dimana-mana. Di media sosialnya, atau mungkin terdapat pada tato di lengannya, dan kuyakin namamu juga masih melekat jauh dilubuk hati terdalamnya. Di tempat terbaik dimana semua orang mendambakan sebagaimana cara mereka untuk dicintai.


Kamu beruntung, Mel. Namamu cantik, dan arti nama kalian pun terdengar seperti memang untuk melengkapi satu sama lain.

bunga & wangi (harum)



Pabuaran, 3 januari 2025. Pukul 00.16 dini hari.


Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...