Senin, 03 Februari 2025

Dan kau abadi di setiap tulisanku

Mata teduh itu.

Pemilik mata dengan tatapan paling sendu bagi siapapun yang memperhatikannya dengan teliti. Mata yang senantiasa dikelilingi lingkaran hitam bukti terjaganya kamu di kala malam. Lengkap dengan semua kegelisahan yang ikut menyiksamu ketika sunyi. Semua yang ku tuliskan masih tentang dirimu. Dan aku meninggalkan tulisan ini dimana-mana. Bukti yang terlalu menyita perhatian? Tidak juga. Aku begitu yakin tidak akan ada yang tahu soal teka-teki tulisan tentangmu ini. Aku menulis karena tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikan semua isi pikiranku disaat kamu memang masih memiliki tempat dalamnya. Berita baiknya, aku telah memastikan kau takkan melihat notifikasi apapun dariku. Mungkin kabar akan tetap berlanjut dan mengiringi jika saja kamu ataupun aku merindukan satu sama lain sesekali.

Dengan jarak dan keadaan yang memisahkan ini. Kumohon, hiduplah dengan baik. Kejar apapun yang kamu mau. Terjang saja semua jika itu menyangkut tujuanmu. Mungkin kau akan selalu kesulitan memejamkan mata dan mengistirahatkan pikiran ketika malam. Karena dunia memang tidak menjamin ketenangan. Janjikan saja pada dirimu sendiri. Semua ketidaknyamanan ini adalah rangkaian proses karena kau akan mendekatkan dengan apa yang kamu mau. Lalu beginilah aku menjagamu. Lewat kiriman doa yang masih senantiasa terucap. Dan segala tulisan yang ku buat, kau akan abadi di setiap tulisanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...