Rabu, 26 Februari 2025

Hindia dan Stoikisme di Awal 20-an

   Hindia dalam lagu-lagunya bercerita tentang pengalaman pribadi, refleksi diri, dan pencarian makna hidup yang lebih mendalam. Eksistensinya dalam hidupku memang cuma ada dalam bentuk digital, namanya Baskara Putra, yang dikenal dengan nama panggung Hindia. Pertama tahu menahu tentang Baskara di tahun 2019 lewat lagu Peradaban yang dibawakan oleh grup musiknya .Feast ketika ramai di media saat pemilu tahun itu. 

Tapi di akhir 2020 disini baru asyik mengulik album pertamanya yang Multiverses dan menemukan beberapa lagu-lagunya yang ternyata terinspirasi dari serial tv dan film. Seperti Sectumsempra yang berasal dari serial Harry Potter ke 5. Dimana waktu itu saudara sepupuku terdengar sedang menyanyikan lagu tersebut, baru sadar kalau itu lagu yang dibawakan dari grup musik .Feast, karena aku sendiri tahunya Sectumsempra adalah mantra sayatan milik Severus Snape di film Harry Potter and The Half Blood Prince. Yang pas banget di kala itu lagi gila-gilaan namatin series Harry Potter dan baru selesai baca buku ke-4 nya. Tapi memang dari dulu udah khatam duluan nonton filmnya berulang kali jadi ya hafal secara keseluruhan isinya apa aja. 

Lalu di lagu Upside Down, pas baca judul ini yang tergambar pertama di pikiran adalah dunia terbalik yang ada di Stranger Things, tapi di bikin judul lagu sama Baskara. Dan lagu Fastest Man Alive jika kalian nonton The Flash pasti tahu kalau itu adalah sebutan untuk Barry Allen.

Intinya terlepas dari terinspirasinya beberapa judul yang memang dari film dan series, Baskara tetap berhasil mengemas lagu-lagu dalam band nya dengan apik dan memiliki makna sendiri.

Kesenanganku akan sosok Baskara berlanjut ketika dia merilis album studio perdananya Menari Dengan Bayangan lewat projek solonya di Hindia dimana lagu Secukupnya dan Rumah ke Rumah merajalela dimana-mana. Beberapa tahun belakangan ini masih setia menikmati dan mencerna pemikiran lewat karya-karya di projek solonya tersebut, yang setelah kupelajari ternyata beberapa dari karya yang dibuatnya tak jauh dengan pemikiran stoikisme.

Melihat kondisi yang sedang dialami diri sendiri setelah memasuki usia 20-an jauh berbeda ketika masih menjalani hidup sebagai remaja kekanakan beberapa tahun silam. Dunia dan orang-orang sekitar mulai sibuk mencapai sesuatu dalam hidup, teman-teman mulai menyelesaikan studi di perguruan tinggi dan mulai di wisuda, berlomba-lomba menggapai satu persatu mimpi mereka. Membuat perubahan dan mencari makna dari setiap hal baru yang ditemui, seperti yang bisa dikatakan banyak orang kalau mereka termasuk pribadi yang berhasil. Sedangkan diri sendiri masih berjuang dan harus menghadapi kegagalan setiap langkah yang diperbuat.

Lalu semua hal itu membuatku sibuk membandingkan diri dengan mereka-mereka diluar sana. Bagaimana cara menghasilkan sesuatu, bagaimana caranya mencapai posisi tertentu nanti untuk diriku sendiri di kemudian hari dan semua keresahan tentang masa depan lainnya yang mulai memenuhi isi kepala setiap harinya.

Omong-omong tentang stoikisme, secara singkat adalah filosofi hidup yang menawarkan panduan agar bisa menghadapi kehidupan dengan tenang, bijaksana, dan penuh makna di dalam dunia yang penuh tantangan. Segala macam ketidakpastian yang dihadapi di era sekarang ini seringkali mengakibatkan krisis identitas, yaitu sebuah kondisi psikologis ketika seseorang (termasuk diri sendiri) merasa kehilangan arah, bingung, bahkan tidak mengenal diri mereka yang sebenarnya.

Tapi sepertinya semua tuntutan dalam kehidupan dewasa ini membuatku lupa dengan sedikit kebahagiaan untuk diri sendiri. Dan baru ku sadar yang menempatkan diriku di posisi menyulitkan ini ya aku sendiri. Karena sebenarnya tidak ada yang mematok aku harus begini dan begitu dalam kurun waktu tertentu.

Di lagu Besok Mungkin Kita Sampai, aku ditampar oleh idolaku lewat lirik, “Hidup bukan saling mendahului, bermimpilah sendiri-sendiri”

Atau di lagu Untuk Apa / Untuk Apa? Terdapat di lirik, "Mengejar mimpi sampai tak punya rasa, mengejar mimpi sampai lupa keluarga, mengejar mimpi, lupa dunia nyata, mengejar mimpi tapi tidak bersama. Padahal katanya uang takkan kemana, jika memang rezeki, ya, kan ditransfer juga, namun dikejar terus seakan satwa langka, diprosesnya melintah, lupa jadi manusia.”

Dan sebenarnya masih banyak lagi bahkan di beberapa lagu pada album Lagipula Hidup Akan Berakhir. 

Aku merasakan banyak kelegaan karena aku tahu bahwa aku pasti punya jalan, dan semua akan selesai sesuai waktu yang aku punya. Jika berkesempatan hidup lebih lama pasti nanti bakal kegapai juga.

Makasih Bas lagu-lagunya, pas buat aku dan banyak orang di luar sana. Bangga mengenal musisi yang vokalnya bersuara jelek.


Selamat menikmati karya terbaru dari Hindia di Mixtape Doves, ’25 on Blank Canvas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...