Ku ucapkan selamat tinggal kepada kasih sayang bude. Selamat tinggal kepada senyuman pakde. Selamat tinggal kepada perhatian kedua sepupuku yang selama ini telah sukarela menampungku dengan sangat baik di dalam keluarga kecil mereka. Merangkulku dan memberikan yang terbaik seolah aku bagian dari mereka tanpa membeda-bedakan.
Bukan karena seakan aku akan mati atau kemana. Melainkan gagal sudah diriku. Di mata mereka tidak akan lagi sama. Tatapan lembut mereka kepadaku akan berubah menjadi biasa.
Seiring kegagalan yang setia mengikutiku ketika tumbuh dewasa. Aku bertanya-tanya. Kemana perginya semua doa yang ku panjatkan di kesunyian malam selama ini? Apakah mereka lupa jalan pulang? Apakah bahkan doa ibuku juga kesulitan untuk melindungiku?
Ya, Tuhan. Tolong. Maaf. Mohon ampun. Terima kasih atas hukumannya.
Dan petang tadi semua kebohonganku terbongkar tepat di hadapan mereka.
Bisa kubayangkan kekecewaan tergambar jelas di wajah pakde ketika beliau ingin berangkat menuju masjid. Atau keterkejutan kedua sepupuku mengetahui fakta yang baru saja didengarnya. Dan mungkin bude yang entah bagaimana reaksinya.
Katanya, membuat kesalahan itu manusiawi, supaya belajar, supaya tahu mana akhirnya baik dan buruk. Tapi jika seandainya waktu bisa diputar, siapa juga yang mau melakukan kesalahan seperti itu?
Walaupun seandainya beneran bisa mengulang waktu pun, tampaknya udah terlambat juga. Nasi udah jadi bubur. Dinda udah bilang mau mundur, mba Lia udah lepas.
Belum tahu bakal bagaimana penyelesaiannya. Tapi perkara yang fana-fana ini. Semoga Tuhan tidak ikut-ikutan lepas tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar