Kuhabiskan sebagian besar hidupku untuk selalu cemburu melihat apa yang ada pada diri orang lain yang tidak pernah bisa kudapatkan. Semua merujuk pada hal seperti kasih sayang, perhatian, kesempatan, atau bahkan sebuah barang. Kenyataan bahwa kita memang tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan adalah sebuah kepahitan hidup yang pertama kali didapatkan untuk orang-orang kelas menengah kebawah seperti ini.
Ibuku pernah sekali menyebutku, 'yang paling tidak bersyukur'. Itu adalah ketika dimana aku dalam masa tumbuh menjadi remaja agak pemberontak dan merasa tidak bisa menerima keadaan bahwa aku adalah salah satu dari mereka yang kurang berkecukupan.
Setiap setahun sekali keluarga kami selalu kedatangan saudara dari perantauan untuk menghabiskan waktu liburan di kampung halaman. Memiliki sepupu yang menurutku selalu beruntung dari segi apapun kadang hanya membuatku kesal dalam hati. Aku menyayanginya sungguh. Tapi terkadang, aku juga ingin mendapatkan apa yang dia miliki.
Pertama, orang tua yang harmonis. Berani taruhan dia pasti tidak pernah mengalami apa yang pernah kulewati di suatu pagi saat aku masih duduk di sekolah dasar. Ibumu mendatangimu dengan mata sembab saat kau sedang duduk di kursi teras rumah sambil menunjukkan gigi sehatnya terlepas dari gusi karena semalaman bertengkar dengan ayahmu. Atau ketika ekonomi kami sedang tidak baik maka pertengkaran antar orang tua adalah hari-hari yang biasa aku dan saudara kandungku lewati setiap harinya. Dari dulu aku sangat berharap kedua orang tuaku itu bisa berpisah. Sepanjang ingatanku, Ayah adalah orang yang paling ditakuti di keluarga kami. Walaupun dia menyayangi anak-anaknya, tetap saja yang melekat di ingatan kami adalah bahwa dia itu manusia diktator, tidak pernah mau ditentang, dan pemarah.
Dan ternyata hal seperti itu memengaruhiku hingga dewasa. Aku tersadar bahwa selama ini aku kesulitan untuk menatap mata kedua orang tuaku sendiri. Semua hal buruk itu mengikutiku seperti hantu. Aku pernah berharap bahwa untuk sekali saja dalam hidup ibu, dia memiliki keberanian untuk menjalani hidup diluar ini semua. Tapi dia memang tidak pernah membuat perubahan apapun dalam hidup, bahkan untuk dirinya sendiri dan segala hal yang sekarang ikut ditanggung anak-anaknya menurutku adalah kesalahannya. Seakan dia tidak mau beranjak dan hanya menerima kenyataan dengan lapang dada. Aku bisa merasakan ada sebagian besar dalam diriku yang sangat membenci kedua orang tuaku.
Kedua, aku sadar bahwa aku tidak pernah dirayakan. Melihat unggahan story sepupuku di hari ulang tahunnya yang dimeriahkan penuh kejutan oleh keluarga dan teman-temannya membuatku merasa aku selalu saja dipinggirkan. Aku ingat sekali waktu itu saat usiaku menginjak 10 tahun dan sangat menginginkan kue perayaan di hari kelahiranku. Tapi yang kudapatkan ketika sampai dirumah sehabis pulang sekolah adalah wajah datar kedua orang tuaku. Ibu dengan biasa saja membuka tudung saji sambil menyesali uang yang dia habiskan untuk membelikanku kue ini tanpa memberiku ucapan selamat ulang tahun. Aku membencinya. Seterusnya aku tidak pernah meminta lagi.
Ketiga, musim dimana aku seharusnya bisa melanjutkan pendidikanku di bangku kuliah. Sebenarnya orang tuaku sudah melakukan yang terbaik yang bisa mereka berikan kepadaku. Tapi menurutku itu tidak cukup. Maaf jika selama ini aku selalu meminta lebih dari kemampuan kalian. Masa dimana aku iri melihat teman-temanku sibuk mempersiapkan semuanya untuk kehidupan kampus mereka. Memilih universitas mana yang akan mereka masuki dan mengikuti seminar sana-sini untuk tips masuk kampus. Seharusnya sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mempersiapkan biaya pendidikan anak-anaknya. Tapi mereka menyatakan bahwa mereka tidak bisa membiayaiku pada jenjang itu dan aku harus melakukannya sendiri.
Sampai sekarang bahkan saat ibu menelepon untuk mengabariku dia masih saja membuatku mendengarkan keluh kesahnya tentang sikap Ayah yang begini yang begitu, yang sudah sangat muak aku dengarkan sepanjang hidupku. Mereka bahkan tidak pernah bertanya bagaimana kehidupanku, atau bagaimana hariku berjalan di tempat kerja.
Ah, sudahlah. Jika aku terus mengeluhkan apa yang terjadi di hidupku, nantinya Tuhan tidak akan mau menaikkan derajatku jika aku saja tidak bisa berdamai dengan keterbatasan yang dimiliki orang tuaku. Lagipula, aku selalu dipaksa untuk melihat kebawah. Masih banyak orang diluar sana yang tidak seberuntung diriku.
Aku bingung pada orang-orang kesepian dan kesusahan yang hidup dalam kesengsaraan namun masih menemukan keceriaan dalam hidupnya. Mungkin mereka memiliki hati yang besar dan pikiran yang tidak sesempit pikiranku? Aku harap Tuhan mengabulkan doa-doa yang aku panjatkan setiap hari. Memberiku kemampuan untuk mengubah keadaan agar kelak keturunanku tidak merasakan apa yang aku lewati. Mari bersulang untuk hidup yang tidak pernah kita inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar