Minggu, 23 Juli 2023

To the Boy who Loved Me Too Early

 Semuanya bermula di 2018. 

"Ingin rasanya aku mengulang kembali masa itu." Aku menatap layar ponsel yang menampilkan isi percakapan dengan seseorang 5 tahun silam di DM instagram milikku. Pemilik username ber-inisial K itu terus-terusan menghubungiku melalui media sosial ini kala aku mengganti nomor whatsappku dan tidak memberitahunya. Jauh sebelumnya kami sudah membicarakan banyak hal. Bertukar pikiran, membahas hal-hal bodoh dan random, bahkan mencaci maki dengan bahasa kami sendiri. Disini aku diingatkan kembali. Dan seketika tersenyum karena mendapati dia pernah memanggilku dengan sebutan 'kadal inggris' setelah aku menamainya kadal gurun. Aneh dan absurd memang. Tapi kami masih sangat muda disini, begitu bodoh dan naif.

Masih di tahun yang sama ketika memasuki bulan Ramadhan. Kami berada di Masjid yang sama saat melaksanakan sholat. Bahwasannya waktu itu dia anak pesantren dan hanya kembali pulang saat liburan dan acara tertentu. Dia mengambil peran sebagai imam sholat tarawih. Aku berdiri bersiap berada di shaf paling depan dan mendapati dia menatapku agak canggung. Kami tidak pernah mengobrol secara langsung sebenarnya. Ditambah kami hanya pernah berada di satu sekolah yang sama saat taman kanak-kanak dan tidak pernah berinteraksi sama sekali sampai dewasa ini. Dan aku masih ingat sekali bahwa dia pernah membuat status di WA miliknya setelah malam itu. Isinya kurang lebih kalau dia grogi jadi imam sholat ku haha. Dia dan Ayahnya bahkan pernah mengantar adikku pulang kerumah dari masjid di bulan puasa tahun itu.

Aku merindukannya.

Masa-masa kami dimana dia pernah menyatakan perasaanya terhadapku, mengirimiku rekaman suaranya yang membacakan suatu surat dari Al-Quran untuk kudengarkan. Aku yang tidak pernah siap akan sesuatu seperti ini selalu menanggapi dengan sikap cuek dan keras kepala tidak menghargai. Kekanakan sekali. Dan apa yang aku dapat sekarang adalah bahwa aku kehilangannya:)

Tahun 2019 awal adalah terakhir kali aku berhubungan dengannya sampai pada akhirnya dia menghilang. Tidak ada lagi nomornya di kontak whatsappku. Dia menggantinya dengan yang baru dan aku tidak akan pernah tahu.

2020(mendapat notifikasi dia mengikutiku di instagram dengan akun baru). 2021, 2022 berlalu. Aku tidak pernah lagi mendapat kabar darinya. 

Sampai akhirnya 2023 di waktu lebaran menjelang akhir tahun ini aku medapatinya duduk mengucapkan doa selagi aku berjalan memasuki pintu masjid. 'Itu benar dia' kataku dalam hati. Aku mengamatinya dari atas sampai bawah dengan teliti ketika dia mulai berdiri menuju mimbar untuk menginstruksi para jema'ah agar bersiap memulai sholat. Dan pandangan kami bertemu kembali setelah sekian tahun lamanya. Bisa dikatakan dia agak terkejut, mungkin?

Dia yang sekarang benar-benar berbeda. Pipinya tirus dan kulitnya putih condong agak pucat. Tatapan matanya semakin tajam ditambah kantong mata hitamnya yang semakin memperjelas. Dia yang sekarang sangat dewasa. Dilihat dari segi apapun. Dia bukan lagi anak lelaki 16 tahun yang dulu pernah memintaku jadi pacarnya.

Tahun ini aku sengaja memaksa sepupuku untuk ikut denganku sholat di masjid menemaniku. Modusku agar bisa melihatnya disana dan menjadi imamku selama aku masih disini. Terkadang aku mendapatinya melihatku diam-diam disela waktu sebelum sholat dimulai. Menatapku agak lama dan kulihat dia mengerutkan dahi seperti sedang berpikir. Kemudian dia mengalihkan pandangan ketika aku memergokinya melihat ke arahku.

Lalu 23 April, 2023. Aku membuat unggahan story di instagram dan dia menyukainya. Aku menghembuskan nafas lega. Entah kenapa itu menepis pikiran yang kukira selama ini dia menghilang dengan pikiran bahwa dia membenciku tapi ternyata dia tidak begitu. Tanggal 28nya aku membuat unggahan lagi dari tahun lalu. Selang beberapa saat dia juga mengunggah hal yang sama dari tahun lalu. Aku menyukainya dan dia menghubungiku!








Mulai sekarang jika aku melihat kerlipanmu di depan mata menjadi kenangan yang dengan utuh akan ku ingat dengan baik di dalam kepala. 
03.11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...