Minggu, 21 Januari 2024

Lagipula, hidup akan berakhir

          Ada banyak hal dalam hidup yang patut disesali. Katanya, dulu sebelum lahir ke dunia kita sudah ditanya oleh malaikat sebanyak 77 kali. Singkatnya seperti ini, "apakah kamu yakin ingin lahir ke dunia?" lalu kita diperlihatkan oleh malaikat gambaran-gambaran kehidupan kita nanti ketika hidup di dunia. Dan Tuhan juga telah berjanji bahwa akan ada malaikat kita di bumi yang akan membimbing dan mengajari kita cara menengadahkan tangan untuk bisa bicara kepada-Nya, yaitu berdoa.

    Tapi bagaimana dengan orang buangan di luar sana. Contohnya saja segerombolan anak jalanan berandalan dan urakan yang ada dimana-mana. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak ada yang mengenalkan mereka pada Tuhannya. Dan menurut banyak kabar yang tersebar seperti kerikil di jalan bebatuan, sebagian dari mereka belum juga menemukan nama Tuhannya.

    Panggil aku orang sesat. Tapi percayalah, seperti yang dituliskan dalam kitab, dunia ini tidak ada artinya. Kematian bisa datang kapan saja. Jika menilik kisah Adam dan Hawa, kita ini tidak lebih dari anak-anak yang lahir dalam pengasingan. Kita adalah kaum terbuang yang hidup sengsara. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak, kita bisa apa?

    Bicara soal mati. Aku pernah mengalami kecelakaan saat usiaku enam belas tahun. Untuk pertama kalinya seumur hidup aku tahu rasanya tidak sadarkan diri. Bagaimana jika waktu itu aku tidak selamat karena jiwaku pergi, seperti itukah rasanya mati? Dunia berputar lebih cepat, semua disekelilingmu gelap dan kau mati rasa. Sangat sunyi dan tenang. Tapi kau tidak akan tahu betapa konyolnya aku dihadapan Tuhan meminta untuk diselamatkan. Memohon untuk hidup sedikit lebih panjang lagi. Rasanya sesak dan menyakitkan ketika aku sudah sadarkan diri dan bisa merasakan sakit karena luka di sekujur tubuhku waktu itu. 

    Di hari-hari yang lain, aku sempat berpikir jika memang aku mati, lalu apa yang akan terjadi setelahnya? Mungkin aku akan dihukum di alam sana oleh malaikat Tuhan karena dosa-dosaku di dunia sambil menunggu datangnya hari kiamat. Bohong kalau aku tidak punya ambisi di tengah jalan hidup yang kian kacau ini. Dan meski harapan dan mimpi-mimpi itu dijual bebas di luar sana, tetap saja; bagiku mereka memuakkan.

    Rumit, ya? Dewasa mengajak bertualang saat inginku cuma diam. Andai dulu bisa meminta, aku cukup sampai sembilan belas saja. Karena dua puluhan adalah bunuh diri pelan-pelan. Lebih menderita, terutama untuk yang bersuara dari belakang.

    Intinya, aku tidak perlu meminum secangkir kopi sesering biasanya hanya untuk merasa utuh mendekap pagi. Aku hanya perlu menyeduh air mata lebih sering dan menghatkan kesedihan yang semakin dingin. 

    Untuk semua orang yang merasa hidupnya biasa-biasa saja dan selalu diasingkan. Jangan dulu mati. Lagipula, pada akhirnya hidup ini akan berakhir jika sudah waktunya.

                                                                                                       - Tangerang, Januari, 2024.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...