Tiga tahun lalu, di sebuah jalanan berlubang di gang sempit Galeong. Selalu datang wanita yang sehabis subuh membawa sebotol penuh makanan kucing. Dia selalu rutin memberi kucing-kucing gelandangan itu makan setiap paginya. Aku yang berdiri tak jauh diseberang jalan tempatnya berhenti, selalu bisa menyaksikan pemandangan itu setiap hari. Wanita itu berpakaian lengkap dengan setelan kerja dilengkapi jaket tebal yang membalut tubuhnya. Aku dan Bude yang juga akan berangkat kerja menunggu jemputan selalu tersenyum senang melihat wanita itu. Entahlah, kami senang saja memperhatikannya. Mungkin karena ketulusan hatinya.
Atau di lain sisi, saat kami membeli nasi di warteg seberang jalan untuk bekal sarapan pagi. Datang juga seorang kakek tua yang mengendong jualannya dengan bakul di pundak kanannya yang hendak membeli makan. Bude dengan segera membuka dompet lalu mengambil beberapa uang yang dimilikinya untuk diberikan. Pemilik warteg pun ikut memberi imbuh lauk pauk kepada sang kakek dengan sepenuh hati. Setiap hari aku diingatkan Bude bahwa kita termasuk orang yang beruntung di beberapa hal. Saat menelusuri jalan ketika pulang kerja, aku dipaksa melihat kanan kiri karena sekali lagi, aku termasuk orang yang beruntung. Beruntung bahwa aku bukan anak kecil yang sedang duduk di gerobak jelek itu menunggu ayah dan ibunya memungut sampah di jalanan. Atau gadis kecil yang berkostum Teletubbies kumal yang memegang kaleng cat bekas sebagai wadah uang yang diberikan orang sepanjang jalan yang dilaluinya karena belas kasihan.
Aku memang seharusnya bersyukur. Masa kecilku masih bisa kulewati dengan menyaksiksan film kartun yang sangat kusukai di depan televisi dan menghabiskan sisa waktuku untuk bermain. Tidak seperti anak-anak malang di jalanan itu.
Malam ini isi kepalaku berhamburan di kamar. Membawa ingatanku kembali pada sekelebat peristiwa ketulusan dan kemirisan hidup yang pernah kusaksikan sendiri dan mengingatkanku akan betapa tidak bersyukurnya aku selama ini. Tuhan, ampuni aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar