Minggu, 13 Juni 2021

Selamat Malam, Pagi

00.42 dini hari

Mataku masih terbuka lebar menatap nyalang langit-langit di dalam kamar. Kebiasaan buruk ini telah muncul sejak beberapa bulan lalu. Biasanya tidak begini, aku selalu mudah tertidur jika sudah merebahkan diri di kasur. Tapi belakangan ini berbeda. Aku baru bisa terlelap jika sudah lewat tengah malam. Dan esoknya kudapati kantung mataku berubah warna menjadi kehitaman. Bude selalu saja mengomel karena kebiasaan tidur dan makanku yang mulai tidak teratur. Aku bilang padanya, tenang saja, hal seperti ini tidak akan bertahan lama, palingan hanya sesaat dan ini sebenarnya menjadi hal normal di kalangan remaja dewasa sepertiku.

Kata orang, hitung saja domba jika kamu susah tertidur. Sudah kulakukan, tapi tetap saja aku mendapati diriku masih terjaga saat hitunganku sudah memasuki angka empat ratus sembilan puluh tiga malam ini. Aku membuang nafas dengan gusar. Tidak ada gunanya barang sedikit pun, aku bahkan tidak merasa mengantuk sama sekali. Pikiranku malah melayang pada sosok lelaki yang sudah beberapa bulan ini sering muncul di kepalaku. Menganggu pikiranku dan waktu tidurku. Menyusahkan saja, berulang kali aku mengutuk diriku sendiri setiap kali otakku memunculkan sosoknya tanpa diminta. Bodoh sekali diriku mengaguminya. Dia mungkin tidak memedulikanku dalam kesehariannya. Sedangkan aku, aku benar-benar terganggu dengan kemunculannya di setiap hariku. Matanya, senyumnya, punggungnya, bahkan cara berjalannya aku tahu persis! Kaos hitam di setiap hari jumat jadi salah satu kebiasaannya yang kuketahui.

Saat itu tanggal 15 April di hari kamis sore waktu pertama kali kita berbicara. Aku ingat betul karena aku memang menandainya di kalenderku. Salah satu hari sepesial agar aku bisa terus mengingatnya. Waktu itu dia menduduki kursiku ketika aku ingin mengambil tasku disana. Sangat singkat dan kelewat cepat. Tapi sampai sekarang aku masih bisa mengingat suaranya yang ramah dan lembut di telingaku. Ya Tuhan, apa-apaan ini! Seharusnya jam-jam tidurku yang berharga tidak kuhabiskan untuknya. Dan kini pagiku telah menjadi malam hanya karena dia.

Dia muncul seperti selarik puisi yang belum selesai.

Untukmu yang kini telah merebut malam dariku. Selamat malam, pagi.

Tangerang, 13 Juni 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...