00.42 dini hari
Mataku masih terbuka lebar menatap nyalang langit-langit di dalam
kamar. Kebiasaan buruk ini telah muncul sejak beberapa bulan lalu. Biasanya tidak
begini, aku selalu mudah tertidur jika sudah merebahkan diri di kasur. Tapi
belakangan ini berbeda. Aku baru bisa terlelap jika sudah lewat tengah malam.
Dan esoknya kudapati kantung mataku berubah warna menjadi kehitaman. Bude selalu
saja mengomel karena kebiasaan tidur dan makanku yang mulai tidak teratur. Aku bilang
padanya, tenang saja, hal seperti ini tidak akan bertahan lama, palingan hanya sesaat
dan ini sebenarnya menjadi hal normal di kalangan remaja dewasa sepertiku.
Kata orang, hitung saja domba jika kamu susah tertidur. Sudah
kulakukan, tapi tetap saja aku mendapati diriku masih terjaga saat hitunganku
sudah memasuki angka empat ratus sembilan puluh tiga malam ini. Aku membuang
nafas dengan gusar. Tidak ada gunanya barang sedikit pun, aku bahkan tidak merasa
mengantuk sama sekali. Pikiranku malah melayang pada sosok lelaki yang sudah beberapa
bulan ini sering muncul di kepalaku. Menganggu pikiranku dan waktu tidurku. Menyusahkan
saja, berulang kali aku mengutuk diriku sendiri setiap kali otakku memunculkan sosoknya
tanpa diminta. Bodoh sekali diriku mengaguminya. Dia mungkin tidak memedulikanku
dalam kesehariannya. Sedangkan aku, aku benar-benar terganggu dengan kemunculannya
di setiap hariku. Matanya, senyumnya, punggungnya, bahkan cara berjalannya aku tahu
persis! Kaos hitam di setiap hari jumat jadi salah satu kebiasaannya yang kuketahui.
Saat itu tanggal 15 April di hari kamis sore waktu pertama kali
kita berbicara. Aku ingat betul karena aku memang menandainya di kalenderku. Salah
satu hari sepesial agar aku bisa terus mengingatnya. Waktu itu dia menduduki kursiku
ketika aku ingin mengambil tasku disana. Sangat singkat dan kelewat cepat. Tapi
sampai sekarang aku masih bisa mengingat suaranya yang ramah dan lembut di telingaku.
Ya Tuhan, apa-apaan ini! Seharusnya jam-jam tidurku yang berharga tidak kuhabiskan
untuknya. Dan kini pagiku telah menjadi malam hanya karena dia.
Dia muncul seperti selarik puisi yang belum selesai.
Untukmu yang kini telah merebut malam dariku. Selamat malam,
pagi.
Tangerang, 13 Juni 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar