Selasa, 31 Agustus 2021

Jiwa paling cantik

Aku masih ada sampai di sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
...

Aku pernah mengenalmu seperti nadi yang melekat pada tengkuk dan pergelangan tanganku. Atau bahkan kau juga pernah memahamiku sama seperti jantung yang selalu memompa darah ke seluruh tubuh rapuhku. Engkau wanita yang memiliki tatapan paling teduh, peredam amarah terbaik, pelantun kata-kata santun, pemilik jiwa paling cantik yang sialnya diberi seorang putri sepertiku. Seorang putri yang selalu bertingkah semaunya.

Waktu membuat segalanya berubah begitu banyak dalam berbagai hal, dari segala sudut pandang. Rasanya aku tidak begitu cocok denganmu lagi ketika aku mulai menginjak usia remaja. Segalanya menjadi rumit menurutku. Perbedaan pendapat mulai mendominasi setiap pertemuan kita di meja makan. Pertentangan yang kau berikan kepadaku tentang setiap pilihan yang ku buat mulai memicu amarahku. Dan ketika berakhir itupun tidak begitu baik.

Jarak semakin menjauhkanmu dari keseharianku ketika aku memilih masuk ke sekolah yang jaraknya jauh dari rumah. Komunikasi pun sudah jarang terjadi meski aku selalu pulang seminggu sekali. Saat itu apa peduliku tentang hal kecil semacam itu, remaja bandel yang tidak menaruh kepedulian terhadap apapun, bertingkah seenaknya, dan merasa tidak terbebani oleh apapun. Bahkan untuk merasa mempunyai tanggung jawab terhadap masa depanku pun, aku tidak yakin saat itu pernah ku anggap dengan serius.

Sewaktu keluarga kita sedang mengalami masa sulit, aku benci melihatmu yang mudah menangis. Kadang aku sangat jengah dan memutuskan untuk tidak memedulikanmu yang sebenarnya sangat terpuruk. Aku malah memilih untuk mengasingkan diri daripada menemanimu disaat kau membutuhkan sebuah pegangan untuk bisa kuat.

Karena pikirku, para Ibu memang selalu begitu. Selalu melibatkan perasaan bahkan dalam hal sesepele ketika menonton sinetron kacangan yang sering muncul di tv. Tapi aku salah, hal yang menimpamu waktu itu tidak bisa aku bandingkan dengan perkara konyol diatas.

Maafkan aku atas segala sikapku terhadapmu, maafkan aku atas segala perkataanku yang menyakiti hatimu, maafkan aku karena aku sempat membencimu, maafkan aku atas apa yang pernah menimpamu karena perbuatanku.

Darimu aku belajar tentang pengabdian paling tulus. Ketulusanmu terhadap keluargamu, ketulusanmu terhadap saudara-saudaramu, dan ketulusanmu terhadap orang-orang di sekitarmu.

Semoga lama hidupmu di sini
Melihatku berjuang sampai akhir

Untukmu, pemilik jiwa paling cantikšŸ–¤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...