Sabtu, 05 Juni 2021

Teruntuk Lara

Kuceritakan sedikit tentang kesedihanku. Delapan belas tahun, kurasa usia yang cukup dewasa untuk bisa memutuskan akan dibawa kemana hidupku ini. Tapi tidak, hati dan pikiran masih saja menyayangkan memori lama tentang masa lalu yang tertinggal. Menayangkan masa-masaku enam tahun yang lalu. Selalu saja melihat kilas balik hidupku pada masa itu. Menyedihkan. Masa depan yang belum tertata dengan rapi selalu menghantui setiap malam dalam tidurku. Membuatku terjaga hingga pagi hari menyapa.

Ku hembuskan nafas dengan berat. Lelah rasanya. Menjadi dewasa tidak semenarik yang kukira dulu saat masih kecil. Pandangan menjadi dewasa waktu itu membuatku ingin cepat tumbuh dan meninggalkan masa yang kekanak-kanakan. Seperti menyesal, kini semua pikiranku hanya tertuju pada kenangan beberapa tahun lalu. Membuatku terjebak dan tidak membawaku kemana-mana di masa kini. Tapi aku sadar, masa depanku harus mulai diperhitungkan mulai hari ini. Penuaanku mulai bertambah seiring berjalannya waktu. September nanti aku akan menginjak sembilan belas tahun masa hidupku. Selama itu juga aku belum pernah membuat jejak yang berarti.

Terhitung lebih dari tujuh bulan lalu ketika aku memutuskan untuk lepas dari keluargaku. Meninggalkan rumah dengan dalih untuk melanjutkan masa depan di Kota lain. Mulai bekerja agar bisa meneruskan pendidikanku di bangku perkuliahan. Aku masih terlalu muda untuk menyerah. Tapi kesedihan menghampiri saat rindu datang melanda. Rindu akan suasana rumah masa kecilku yang menjadi saksi bisu akan tumbuh kembangku di tempat itu. Penuh kenangan dengan mimpi-mimpi yang dulu pernah kurancang.

Di balik jendela asing ini, mulai kutuangkan perasaanku melalui tulisan. Aku  tahu rumahku tidak pernah marah meski tempat lain lebih menjanjikan masa depan yang lebih cerah. Dan Aku tahu, sejauh apapun aku melangkah, rumahku akan selalu menjadi tempat pulang dari setiap pelarian yang kuciptakan. Maka dari itu,  akan ku coba untuk berdamai dengan diriku terlebih dahulu agar bisa merelakan masa laluku. Karena aku akan melangkah ke depan, bukannya enam tahun ke belakang. Dan waktu terus berjalan, begitu pula mimpi-mimpiku harus segera di realisasikan.

Teruntuk lara, kubiarkan kau memberi kesedihan di usia delapan belas tahunku ini.

Tangerang, 5 Juni 2021.


 

“Suffering has been stronger than all other teaching, and has taught me to understand what your heart used to be. I have been bent and broken, but I hope into a better shape.”

Itulah bunyi tulisan yang ku kutip dari sebuah buku karya Charles Dickens, Great Expectations. Salah satu kesukaanku setelah A Tale of Two Cities yang juga terlahir darinya. Rasanya cocok jika kuselipkan kutipan itu di tulisanku kali ini.

-KA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik

 Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...