Selasa, 31 Agustus 2021
Jiwa paling cantik
Minggu, 13 Juni 2021
Selamat Malam, Pagi
00.42 dini hari
Mataku masih terbuka lebar menatap nyalang langit-langit di dalam
kamar. Kebiasaan buruk ini telah muncul sejak beberapa bulan lalu. Biasanya tidak
begini, aku selalu mudah tertidur jika sudah merebahkan diri di kasur. Tapi
belakangan ini berbeda. Aku baru bisa terlelap jika sudah lewat tengah malam.
Dan esoknya kudapati kantung mataku berubah warna menjadi kehitaman. Bude selalu
saja mengomel karena kebiasaan tidur dan makanku yang mulai tidak teratur. Aku bilang
padanya, tenang saja, hal seperti ini tidak akan bertahan lama, palingan hanya sesaat
dan ini sebenarnya menjadi hal normal di kalangan remaja dewasa sepertiku.
Kata orang, hitung saja domba jika kamu susah tertidur. Sudah
kulakukan, tapi tetap saja aku mendapati diriku masih terjaga saat hitunganku
sudah memasuki angka empat ratus sembilan puluh tiga malam ini. Aku membuang
nafas dengan gusar. Tidak ada gunanya barang sedikit pun, aku bahkan tidak merasa
mengantuk sama sekali. Pikiranku malah melayang pada sosok lelaki yang sudah beberapa
bulan ini sering muncul di kepalaku. Menganggu pikiranku dan waktu tidurku. Menyusahkan
saja, berulang kali aku mengutuk diriku sendiri setiap kali otakku memunculkan sosoknya
tanpa diminta. Bodoh sekali diriku mengaguminya. Dia mungkin tidak memedulikanku
dalam kesehariannya. Sedangkan aku, aku benar-benar terganggu dengan kemunculannya
di setiap hariku. Matanya, senyumnya, punggungnya, bahkan cara berjalannya aku tahu
persis! Kaos hitam di setiap hari jumat jadi salah satu kebiasaannya yang kuketahui.
Saat itu tanggal 15 April di hari kamis sore waktu pertama kali
kita berbicara. Aku ingat betul karena aku memang menandainya di kalenderku. Salah
satu hari sepesial agar aku bisa terus mengingatnya. Waktu itu dia menduduki kursiku
ketika aku ingin mengambil tasku disana. Sangat singkat dan kelewat cepat. Tapi
sampai sekarang aku masih bisa mengingat suaranya yang ramah dan lembut di telingaku.
Ya Tuhan, apa-apaan ini! Seharusnya jam-jam tidurku yang berharga tidak kuhabiskan
untuknya. Dan kini pagiku telah menjadi malam hanya karena dia.
Dia muncul seperti selarik puisi yang belum selesai.
Untukmu yang kini telah merebut malam dariku. Selamat malam,
pagi.
Tangerang, 13 Juni 2021
Minggu, 06 Juni 2021
To All Future Lover
Tertanggal, 8 Juni 2020
Sometimes, we think about our partner’s criteria as well as we hoped. Like me personally, I hope that my future love is a good man with a good heart owner. He will always bring warmth and joy for everyone he meets. He knows all my good and bad but he decided to never leaves me. He will treat me exactly the way a girl should be treated without being hurt.
When I meet him someday, he will find calm in my eyes like I found in him. He will make every place feels like home, he will appreciate every effort that I make and support every step that I take. And I hope he will also surprise me with unexpected little things.
But the problem is, have we become the criteria for the best pair as we expect him? The only things we can do is improve ourselves and love yourself as you deserve to be loved by someone that you want. Be the person you’d fall in love with. Your soulmate reflects you!
Sabtu, 05 Juni 2021
Teruntuk Lara
Kuceritakan sedikit tentang kesedihanku. Delapan belas tahun, kurasa usia yang cukup dewasa untuk bisa memutuskan akan dibawa kemana hidupku ini. Tapi tidak, hati dan pikiran masih saja menyayangkan memori lama tentang masa lalu yang tertinggal. Menayangkan masa-masaku enam tahun yang lalu. Selalu saja melihat kilas balik hidupku pada masa itu. Menyedihkan. Masa depan yang belum tertata dengan rapi selalu menghantui setiap malam dalam tidurku. Membuatku terjaga hingga pagi hari menyapa.
Ku hembuskan nafas dengan berat. Lelah rasanya. Menjadi
dewasa tidak semenarik yang kukira dulu saat masih kecil. Pandangan menjadi
dewasa waktu itu membuatku ingin cepat tumbuh dan meninggalkan masa yang kekanak-kanakan.
Seperti menyesal, kini semua pikiranku hanya tertuju pada kenangan beberapa tahun
lalu. Membuatku terjebak dan tidak membawaku kemana-mana di masa kini. Tapi aku
sadar, masa depanku harus mulai diperhitungkan mulai hari ini. Penuaanku mulai bertambah
seiring berjalannya waktu. September nanti aku akan menginjak sembilan belas tahun
masa hidupku. Selama itu juga aku belum pernah membuat jejak yang berarti.
Terhitung lebih dari tujuh bulan lalu ketika aku memutuskan untuk
lepas dari keluargaku. Meninggalkan rumah dengan dalih untuk melanjutkan masa depan
di Kota lain. Mulai bekerja agar bisa meneruskan pendidikanku di bangku perkuliahan.
Aku masih terlalu muda untuk menyerah. Tapi kesedihan menghampiri saat rindu datang
melanda. Rindu akan suasana rumah masa kecilku yang menjadi saksi bisu akan tumbuh
kembangku di tempat itu. Penuh kenangan dengan mimpi-mimpi yang dulu pernah kurancang.
Di balik jendela asing ini, mulai kutuangkan perasaanku melalui
tulisan. Aku tahu rumahku tidak pernah marah
meski tempat lain lebih menjanjikan masa depan yang lebih cerah. Dan Aku tahu, sejauh
apapun aku melangkah, rumahku akan selalu menjadi tempat pulang dari setiap pelarian
yang kuciptakan. Maka dari itu, akan ku coba
untuk berdamai dengan diriku terlebih dahulu agar bisa merelakan masa laluku. Karena
aku akan melangkah ke depan, bukannya enam tahun ke belakang. Dan waktu terus berjalan,
begitu pula mimpi-mimpiku harus segera di realisasikan.
Teruntuk lara, kubiarkan kau memberi kesedihan di usia delapan
belas tahunku ini.
Tangerang, 5 Juni 2021.
…
“Suffering has been stronger than all other teaching, and has
taught me to understand what your heart used to be. I have been bent and broken,
but I hope into a better shape.”
Itulah bunyi tulisan yang ku kutip dari sebuah buku karya Charles
Dickens, Great Expectations. Salah satu kesukaanku setelah A Tale of Two Cities
yang juga terlahir darinya. Rasanya cocok jika kuselipkan kutipan itu di tulisanku
kali ini.
-KA
Sabtu, 24 April 2021
Dear You
Satu minggu lebih
setelah kecelakaan yang menimpaku. Aku kembali lagi dalam lingkungan sekolah
setelah melewati masa pemulihan. Meskipun rasa nyeri masih bersarang di
tubuhku, aku berusaha untuk terlihat senormal mungkin didepan ayah dan ibu. Aku
telah membuat mereka meninggalkan pekerjaan mereka akhir-akhir ini karena
mereka lebih memilih untuk merawatku daripada harus meninggalkanku sendirian
dalam melewati masa kritis.
Aku merasa sangat
berdosa karena telah membuat mereka bekerja dua kali lebih banyak hanya untuk
menjagaku. Ibuku, dia begitu halus dan lembut, walau terkadang sikapnya yang
disiplin harus dia tunjukkan karena aku yang kadang suka menentang seluruh
perhatian yang dia berikan padaku. aku tetap menyayanginya. Ayahku, yang sering
memiliki perbedaan pendapat denganku, tidak begitu menunjukkan sikap kerasnya
lagi saat ini. Tapi tetap saja, walau tanpa kemiripan dasar antara sifat kami,
wajahku telah mencerminkan dirinya sampai tingkat tertentu karena dia ayah
biologisku.
Pagi ini dia mengantarku
untuk kembali bersekolah setelah cuti sakitku. Kulihat sorot ketidak yakinan
masih terpancar di wajah tuanya. Kuberikan seulas senyuman untuk meyakinkan
bahwa aku baik-baik saja. Sebenarnya alasanku kembali sekolah secepat ini bukan
hanya semata-mata agar bisa kembali beraktivitas seperti biasanya, melainkan
untuk segera menemui lelaki itu lagi. Apa dia masih disana? Kuharap begitu.
Saat berjalan memasuki
area sekolah, banyak pasang mata memandangku dengan tatapan yang berbeda-beda.
Sebagian dari mereka menyapaku dan kubalas dengan sebuah anggukan. Di depan
kelas, aku sudah disambut dengan semangat oleh teman-temanku yang menurutku
superheboh dan sangat berisik seperti biasanya.
“Ya
ampun, temenku masih hidup!”
Begitulah kira-kira
sambutan yang kudapatkan saat memasuki kelas. Walaupun kebanyakan dari mereka
adalah manusia paling aneh dan superjayus yang pernah kutemui. Aku tetap
menyayangi seluruh temanku yang begitu peduli satu sama lain.
Selama pelajaran
berlangsung, pikiranku melayang pada lelaki yang dua minggu lalu telah menjadi
teman obrolanku. Kuharap dia masih berada disana meskipun setelah ketiadaanku
yang cukup lama itu bisa membuatnya pergi. Sebelum memutuskan untuk menemuinya,
aku harus menolak ajakan teman-temanku yang memaksa untuk ikut ke kantin. Tapi
itu semua sudah berhasil kulewati karena nyatanya sekarang aku berada disini.
Aku menyukai tempat ini karena sangat jauh dari keramaian para siswa sekolah.
Sebelum kedatangan sosok itu yang notabenya adalah murid baru, aku sering
menggunakannya untuk membaca buku yang kubawa dari rumah sendirian.
Aku mengedarkan
pandangan kesekeliling berharap orang yang telah menemani jam-jam istirahatku
dua minggu lalu akan berada disini. Seorang murid pindahan dari sekolah luar
yang telah menjadi teman baruku. Lelaki pendiam itu biasanya menghabiskan jam
istirahatnya hanya untuk tidur siang atau kadang membicarakan buku yang pernah
kami baca.
Hingga akhirnya, aku
menemukannya. Disana, di pojok rooftop yang terdapat sofa usang tempat kami
biasa berbagi tempat duduk. Dia memandangku, mata hitamnya berbinar redup
menatap mataku lurus.
Aku berjalan
mendekatinya dan mengambil duduk di sampingnya. Dalam genggamannya terdapat
sebuah buku, aku memperhatikan. Walaupun kami sudah beberapa kali membicarakan
buku-buku bersama, tak pernah sekalipun sebelumnya hingga hari ini dia membawa
buku kemari bersamanya.
“Radio
Silence?” tanyaku melihat judul buku yang tengah di pegangnya.
Dia melemparkan senyuman
tipis kearahku sambil mengangkat buku itu.
“Untukmu.”
Ucapnya lalu menaruhnya di tanganku. Aku mengernyitkan dahi kearahnya tidak
mengerti.
“Hadiah
dariku atas kesembuhanmu. Maaf karena aku sudah membuka pembungkusnya,
seharusnya tidak kulakukan.” Katanya terus terang.
Aku melihatnya tidak
percaya. Kenapa dia sampai merepotkan diri hanya untuk meberiku ini. Tetapi
senang rasanya bisa melihatnya tampak manusiawi saat didepanku. Dia tersenyum
dan kadang tertwa tertahan saat bertukar pendapat yang kadang menurutnya
lucu.
“Terima
kasih. Aku akan segera membacanya setelah menyelesaikan bukuku yang lain.”
Dia masih tersenyum lalu
mengangguk sebagai jawaban. Di sisa waktu ini, kami berbincang dimulai dari aku
yang menanyakan alasan dia pindah kesini. Karena sebelumnya aku belum berani
menanyakan itu padanya. Dan dia bilang, ibunya selalu memiliki alasan untuk
membawanya pergi akhir-akhir ini. Aku tidak tahu apa masalahnya karena dia
tidak menceritakannya, dan aku tahu jika meminta penjelasan lebih darinya itu
berarti sangat tidak sopan karena telah menyangkut urusan pribadi keluarganya.
Hingga saat dia menatap jam dipergelangan tangannya, perbincangan kami pun
berakhir.
“Ku
kira kita harus pergi. Terima kasih telah menemaniku disini, sampai jumpa.”
Dia menepuk sebelah pundakku
sebelum beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku yang masih terdiam di
sofa usang ini. Selang beberapa saat, aku juga bergegas turun menuju kelas
sambil membawa buku yang diberikannya padaku tadi. Dia yang dikenal banyak
orang karena keterdiamannya terhadap siapapun, mau berbagi pikiran denganku
bahkan menunjukkan ekspresi berbeda saat bersamaku. Tanpa sadar aku tersenyum
saat mengingatnya.
…..
Sehari berlalu setelah
pertemuan kembaliku dengannya kemarin, kurasa semuanya berjalan normal seperti
sebelumnya. Tetapi ada yang aneh dengan sikapnya hari ini. Dia tidak terlihat
di rooftop saat jam istirahat tadi. Aku merasa dia malah menghindariku. Entah
apa penyebabnya, yang jelas saat akan bersimpangan denganku di jalan, dia malah
memilih berputar arah dan berpura-pura tidak melihatku.
Dan sekarang ini aku
tengah mendapati sosoknya yang sedang duduk di bangku bawah pohon dekat
lapangan basket. Sekali-kali pandangan kami bertemu. Aku heran, apa dia marah
padaku? padahal kurasa tidak ada yang salah dengan pertemuan kami waktu itu.
Malahan dia terlihat menimakti perbincangan kami. Saat aku melihatnya lagi, dia
malah mengunci mataku dari kejauhan saat pandangan kami bertemu tanpa perlu
melirik kanan kiri.
Hari demi hari berlalu,
dan aku berniat untuk mempertanyakan ada apa dengan sikapnya itu. Tetapi hari
ini dia tidak terlihat sama sekali. Bahkan saat aku menunggu di tempat
favoritnya, dia tidak ada.
Apa dia sakit?
Apa dia marah padaku?
Semua pertanyaan itu
terus bersarang di kepalaku hingga rasanya membuatku pusing. Entah sudah berapa
hari dia menghilang. Aku hanya bisa mendesah lelah.
Aku kembali mengunjungi
tempat favorit kami. Duduk diatas sofa usang yang sering kududuki bersamanya sambil
membawa buku yang diberikannya padaku beberapa hari lalu. Kubuka lembar demi
lembar buku yang kubaca sampai akhirnya terdapat secarik kertas yang terselip
didalamnya. Aku membaca kalimat yang ditulis dengan tinta hitam itu. Seluruh
tubuhku membeku. Tanpa sengaja aku melepas kertas itu dari tanganku.
“Hei, beberapa hari ini aku harus membantu menyelesaikan
permasalahan ibuku. Dan aku akan ikut pindah lagi bersamanya. Maaf ya? Aku suka
padamu.”
-Rangga
Catatan dibalik buku, matahari, dan doa-doa baik
Ada hilang ada pergi, tetapi landasanmu tetap disana. Kuberikan padamu tulisanku pada secarik kartu. Ku tegaskan tentang ketulusan di baris...
-
Hindia dalam lagu-lagunya bercerita tentang pengalaman pribadi, refleksi diri, dan pencarian makna hidup yang lebih mendalam. Eksistensin...
-
Masih terjaga diantara satu dari ribuan malam tanpa lelap lainnya. Aku berbaring menikmati rundungan malam yang jarang memberiku ketenangan...