Masih terjaga diantara satu dari ribuan malam tanpa lelap lainnya. Aku berbaring menikmati rundungan malam yang jarang memberiku ketenangan. Tidak ada hujan. Tidak ada Tuhan. Tidak ada kabar dari lelaki yang setahun belakangan ini menjadi alasan mengapa aku terus bersandar pada harapan.
Jika berbicara tentang hal paling mendasar yaitu kasih sayang. Selama ini aku memandangmu sebagai sesuatu yang sangat berharga. Begitu berharga hingga aku melupakan fakta bahwa kamu masih menyimpan rapat bayangan masa lalu jauh di lubuk hati paling dalam. Kamu bebas datang dan pergi sesuka hati. Gemar sekali meninggalkan bekas mendalam dan pertanyaan tentang harapan atau tentang maksudmu kembali lagi dan lagi.
"Kangen", katamu di setiap malam ketika menghubungiku. Dan aku selalu tersenyum getir melihat pesan itu. Karena bahwasannya tidak akan menepis kenyataan tentang bagaimana pada tubuhmu selalu kutemukan orang asing entah dari masa lalu atau orang baru yang ikut singgah dan selalu berhasil menarik perhatian.
Aku menginginkanmu seutuhnya. Aku ingin kamu di versi terbaikmu begitu juga denganku. Aku ingin kita saling bertelanjang rasa. Bertukar perasaan tanpa ada yang harus disembunyikan. Bertelanjang rasa hingga tidak lagi kutemukan bayang-bayang masa lalu dari tubuh dan hatimu. Mereka tidak lagi bersembunyi tapi benar-benar pergi. Perasaan dan jiwamu bebas dan tanpa beban untuk melangkah kedepan.
Tapi apa yang membuatku begitu yakin akan berakhir bersamamu? Di dalam harapan tidak ada jaminan, karena ada saat dimana kita selalu tertarik pada kegilaan. Dibalik kepala akan selalu kuingat, karena kamu lahir dari semua yang cukup baik.
Pabuaran, 6 Juni 2025.
22:48
Love it
BalasHapus